Sabtu, 25 Desember 2010
FORMAT SURAT LAMARAN
Mijen, 28 Juli 2010
Hal : LAMARAN KERJA
Kepada Yth
Kepala CV. LPK Al Fattah
di
Demak
Dengan hormat,
Setelah saya membaca iklan, saya mendapatkan informasi bahwa LPK Al Fattah berencana mengembangkan pendidikan ketrampilan masyarakat
Sehubungan dengan hal tersebut, perkenankan saya mengajukan diri (melamar kerja) untuk bergabung dalam rencana pengembangan pendidikan ketrampilan masyarakat.
Mengenai diri saya, dapat saya jelaskan sebagai berikut :
Nama :
Tempat & tgl. Lahir :
Pendidikan Akhir :
Alamat :
Telepon, HP, e-mail :
Status Perkawinan :
Sebelumnya saya bekerja di ........., sebagai ........., dengan fokus utama pekerjaan di bidang .........
Sebagai bahan pertimbangan, saya lampirkan :
1. Daftar Riwayat Hidup.
2. Foto copy ijazah S-1.
3. Foto copy sertifikat kursus/pelatihan.
4. Pas foto terbaru.
5. Transkrip Nilai
Besar harapan saya untuk diberi kesempatan wawancara, dan dapat menjelaskan lebih mendalam mengenai diri saya. Seperti yang tersirat di resume (riwayat hidup), saya mempunyai latar belakang pendidikan, pengalaman potensi dan seorang pekerja keras.
Demikian saya sampaikan. Terima kasih atas perhatian Bapak.
Hormat saya,
CHARIR MOH MUZANI
Selasa, 31 Agustus 2010
MENJELANG HARI RAYA
tajk terasa Puasa mendekati akhir, lebaran di depan mata.pakaia serba baru. namun, disisi lain dari kemeriahan hari raya ada sebuah pemandangan yang menyedihkan. pemandangan yang tak sepantasnya ada di negeri Indonesia tercinta.
kemiskinan yang melanda Negeri Indonesia membuat angka kemiskinan semakin menurun. namun tak menyurutkan mental rakyat Indonesia untuk selalu mejalankan Puasa Romadlon. Puasa yang nota benenya adalah sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umat muslim seluruh dunia selama 1 bulan dalam 1 tahun diistilahkan sebagai diet alami yang bisa dilakukan oleh seluruh insan manusia baik muslim maupun non muslim. sehingga hikmahnya sangat dirasakan oleh insan manusia.
puasa hampir berlalu saatnya menghadapi ujian kembali. lebaran semuanya serba baru dari pakaian, perabotan dll. tapi jangan sampai lebaran, suami / istri ganti baru. he he he agak bercanda sedikit.
OK. kita lanjutkan kembali........
dalam menyambut lebaran hari kemenangan bagi umat muslim dalam memerangi hawa nafsu menjadikan instropeksi diri bagi semua. yang sebelumnya berseteru, kini bersalam-salaman berbaur menjadi satu, berdamai kembali dalam satu wadah INDAHNYA KEBERSAMAAN dalam ISLAm. ISLAM adalah agama yang di atas sagama yang lain.
semoga Allah memberikan kesehatan kepada kita semua dalam menyambut lebaran setelah berperang melawan hawa nafsu. amin amin yaa robbal 'alamin
Seluruh dewan guru dan karyawan MTs SULFA Mijen
mengucapkan SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1431 H.
Allahu Akbar Allahu Akbar
Laa Ilaaha Illallahu Allahu Akbar
Allahu Akbar
Wa Lillahil Hamdu
Jumat, 27 Agustus 2010
IBNU TAIMIYYAH MEMBUNGKAM WAHABI
Belakangan ini kata 'salaf' semakin populer. Bermunculan pula kelompok
yang mengusung nama salaf, salafi, salafuna, salaf shaleh dan
derivatnya. Beberapa kelompok yang sebenarnya berbeda prinsip saling
mengklaim bahwa dialah yang paling sempurna mengikuti jalan salaf.
Runyamnya jika ternyata kelompok tersebut berbeda dengan generasi
pendahulunya dalam banyak hal. Kenyataan ini tak jarang membuat umat
islam bingung, terutama mereka yang masih awam. Lalu siapa pengikut
salaf sebenarnya? Apakah kelompok yang konsisten menapak jejak salaf
ataukah kelompok yang hanya menggunakan nama salafi?.
Tulisan ini mencoba menjawab kebingungan di atas dan menguak siapa
pengikut salaf sebenarnya.
Istilah salafi berasal dari kata salaf yang berarti terdahulu. Menurut
ahlussunnah yang dimaksud salaf adalah para ulama' empat madzhab dan
ulama sebelumnya yang kapasitas ilmu dan amalnya tidak diragukan lagi
dan mempunyai sanad (mata rantai keilmuan) sampai pada Nabi SAW.
Namun belakangan muncul sekelompok orang yang melabeli diri dengan
nama salafi dan aktif memakai nama tersebut pada buku-bukunya.
Kelompok yang berslogan "kembali" pada Al Qur'an dan sunnah tersebut
mengaku merujuk langsung kepada para sahabat yang hidup pada masa Nabi
SAW, tanpa harus melewati para ulama empat madzhab.
Bahkan menurut sebagian mereka, diharamkan mengikuti madzhab tertentu.
Sebagaimana diungkapkan oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz dalam salah
satu majalah di Arab Saudi, dia juga menyatakan tidak mengikuti
madzhab Imam Ahmad bin Hanbal.
Pernyataan di atas menimbulkan pertanyaan besar di kalangan umat islam
yang berpikir obyektif. Sebab dalam catatan sejarah, ulama-ulama besar
pendahulu mereka adalah penganut madzhab Imam Ahmad bin Hanbal. Sebut
saja Syekh Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Rajab, Ibnu Abdil Hadi,
Ibnu Qatadah, kemudian juga menyusul setelahnya Al Zarkasyi, Mura'i,
Ibnu Yusuf, Ibnu Habirah, Al Hajjawiy, Al Mardaway, Al Ba'ly, Al Buhti
dan Ibnu Muflih. Serta yang terakhir Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab
beserta anak-anaknya, juga mufti Muhammad bin Ibrahim, dan Ibnu Hamid.
Semoga rahmat Allah atas mereka semua.
Ironis sekali memang, apakah berarti Imam Ahmad bin Hanbal dan para
imam lainnya tidak berpegang teguh pada Al-Qur'an dan sunnah? sehingga
kelompok ini tidak perlu mengikuti para pendahulunya dalam
bermadzhab?. Apabila mereka sudah mengesampingkan kewajiban bermadzhab
dan tidak mengikuti para salafnya, layakkah mereka menyatakan dirinya
salafy?
Belum lagi aksi manipulasi mereka terhadap ilmu pengetahuan. Mereka
memalsukan sebagian dari kitab kitab karya ulama' salaf. Sebagai
contoh, kitab Al Adzkar karya Imam Nawawi cetakan Darul Huda, Riyadh,
1409 H, yang ditahqiq oleh Abdul Qadir Asy Syami. Pada halaman 295,
pasal tentang ziarah ke makam Nabi SAW, dirubah judulnya menjadi pasal
tentang ziarah ke masjid Nabi SAW. Beberapa baris di awal dan akhir
pasal itu juga dihapus. Tak cukup itu, mereka juga dengan sengaja
menghilangkan kisah tentang Al Utbiy yang diceritakan Imam Nawawi
dalam kitab tersebut.
Untuk diketahui, Al Utbiy (guru Imam Syafi'i) pernah menyaksikan
seorang arab pedalaman berziarah dan bertawassul kepada Nabi SAW.
Kemudian Al Utbiy bermimpi bertemu Nabi SAW, dalam mimpinya Nabi
menyuruh memberitahukan pada orang dusun tersebut bahwa ia diampuni
Allah berkat ziarah dan tawassulnya. Imam Nawawi juga menceritakan
kisah ini dalam kitab Majmu' dan Mughni.
Pemalsuan juga mereka lakukan terhadap kitab Hasyiah Shawi atas Tafsir
Jalalain dengan membuang bagian-bagian yang tidak cocok dengan
pandangannya. Hal itu mereka lakukan pula terhadap kitab Hasyiah Ibn
Abidin dalam madzhab Hanafi dengan menghilangkan pasal khusus yang
menceritakan para wali, abdal dan orang-orang sholeh.
Parahnya, kitab karya Ibnu Taimiyah yang dianggap sakral juga tak
luput dari aksi mereka. Pada penerbitan terakhir kumpulan fatwa Syekh
Ibnu Taimiyah, mereka membuang juz 10 yang berisi tentang ilmu suluk
dan tasawwuf. (Alhamdulilah, penulis memiliki cetakan lama)
Bukankah ini semua perbuatan dzalim? Mereka jelas-jelas melanggar hak
cipta karya intelektual para pengarang dan melecehkan karya-karya
monumental yang sangat bernilai dalam dunia islam. Lebih dari itu,
tindakan ini juga merupakan pengaburan fakta dan ketidakjujuran
terhadap dunia ilmu pengetahuan yang menjunjung tinggi sikap
transparansi dan obyektivitas.
MENGIKUTI SALAF?
Berikut ini beberapa hal yang berkaitan dengan masalah tasawwuf,
maulid, talqin mayyit, ziarah dan lain-lain yang terdapat dalam
kitab-kitab para ulama pendahulu wahhabi. Ironisnya, sikap mereka
sekarang justru bertolak belakang dengan pendapat ulama mereka sendiri.
Pertama, tentang tasawuf. Dalam kumpulan fatwa jilid 10 hal 507 Syekh
Ibnu Taimiyah berkata, "Para imam sufi dan para syekh yang dulu
dikenal luas, seperti Imam Juneid bin Muhammad beserta pengikutnya,
Syekh Abdul Qadir al-Jailani serta lainnya, adalah orang-orang yang
paling teguh dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah.
Syekh Abdul Qadir al-Jailani, kalam-kalamnya secara keseluruhan berisi
anjuran untuk mengikuti ajaran syariat dan menjauhi larangan serta
bersabar menerima takdir Allah.
Dalam "Madarijus salikin" hal. 307 jilid 2 Ibnul Qayyim Al-Jauziyah
berkata, "Agama secara menyeluruh adalah akhlak, barang siapa melebihi
dirimu dalam akhlak, berarti ia melebihi dirimu dalam agama. Demikian
pula tasawuf, Imam al Kattani berkata, "Tasawwuf adalah akhlak,
barangsiapa melebihi dirimu dalam akhlak berarti ia melebihi dirimu
dalam tasawwuf."
Muhammad bin Abdul Wahhab berkata dalam kitab Fatawa wa Rosail hal. 31
masalah kelima. "Ketahuilah -mudah-mudahan Allah memberimu petunjuk -
Sesungguhnya Allah SWT mengutus Nabi Muhammad dengan petunjuk berupa
ilmu yang bermanfaat dan agama yang benar berupa amal shaleh. Orang
yang dinisbatkan kepada agama Islam, sebagian dari mereka ada yang
memfokuskan diri pada ilmu dan fiqih dan sebagian lainnya memfokuskan
diri pada ibadah dan mengharap akhirat seperti orang-orang sufi. Maka
sebenarnya Allah telah mengutus Nabi-Nya dengan agama yang meliputi
dua kategori ini (Fiqh dan tasawwuf)". Demikianlah penegasan Syekh
Muhammad bin Abdul Wahhab bahwa ajaran tasawuf bersumber dari Nabi SAW.
Kedua, mengenai pembacaan maulid. Dalam kitab Iqtidha' Sirathil
Mustaqim Ibnu Taimiyah berkata, "Adapun mengagungkan maulid dan
menjadikannya acara rutinan, segolongan orang terkadang melakukannya.
Mereka mendapat pahala yang besar karena tujuan baik dan
pengagungannya terhadap Rasulullah SAW."
Ketiga, tentang hadiah pahala, Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa barang
siapa mengingkari sampainya amalan orang hidup pada orang yang
meninggal maka ia termasuk ahli bid'ah.
Dalam Majmu' fatawa juz 24 hal306 ia menyatakan, "Para imam telah
sepakat bahwa mayit bisa mendapat manfaat dari hadiah pahala orang
lain. Ini termasuk hal yang pasti diketahui dalam agama islam dan
telah ditunjukkan dengan dalil kitab, sunnah dan ijma' (konsensus
ulama'). Barang siapa menentang hal tersebut maka ia termasuk ahli
bid'ah".
Lebih lanjut pada juz 24 hal 366 Ibnu Taimiyah menafsirkan firman Allah
"dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah
diusahakannya." (QS an-Najm [53]: 39)
ia menjelaskan, Allah tidak menyatakan bahwa seseorang tidak bisa
mendapat manfaat dari orang lain, Namun Allah berfirman, seseorang
hanya berhak atas hasil usahanya sendiri. Sedangkan hasil usaha orang
lain adalah hak orang lain. Namum demikian ia bisa memiliki harta
orang lain apabila dihadiahkan kepadanya.
Begitu pula pahala, apabila dihadiahkan kepada si mayyit maka ia
berhak menerimanya seperti dalam solat jenazah dan doa di kubur.
Dengan demikian si mayit berhak atas pahala yang dihadiahkan oleh kaum
muslimin, baik kerabat maupun orang lain"
Dalam kitab Ar-Ruh hal 153-186 Ibnul Qayyim membenarkan sampainya
pahala kepada orang yang telah meninggal. Bahkan tak tangung-tanggung
Ibnul Qayyim menerangkan secara panjang lebar sebanyak 33 halaman
tentang hal tersebut.
Keempat, masalah talqin. Dalam kumpulan fatwa juz 24 halaman 299 Ibnu
Taimiyah menyatakan bahwa sebagian sahabat Nabi SAW melaksanakan
talqin mayit, seperti Abu Umamah Albahili, Watsilah bin al-Asqa' dan
lainnya. Sebagian pengikut imam Ahmad menghukuminya sunnah. Yang
benar, talqin hukumnya boleh dan bukan merupakan sunnah. (Ibnu
Taimiyah tidak menyebutnya bid'ah)
Dalam kitab AhkamTamannil Maut Muhammad bin Abdul Wahhab juga
meriwayatkan hadis tentang talqin dari Imam Thabrani dalam kitab Al
Kabir dari Abu Umamah.
Kelima, tentang ziarah ke makam Nabi SAW. Dalam qasidah Nuniyyah (bait
ke 4058) Ibnul Qayyim menyatakan bahwa ziarah ke makam Nabi SAW adalah
salah satu ibadah yang paling utama
"Diantara amalan yang paling utama dalah ziarah ini.
Kelak menghasilkan pahala melimpah di timbangan amal pada hari kiamat".
Sebelumnya ia mengajarkan tata cara ziarah (bait ke 4046-4057).
Diantaranya, peziarah hendaklah memulai dengan sholat dua rakaat di
masjid Nabawi. Lalu memasuki makam dengan sikap penuh hormat dan
takdzim, tertunduk diliputi kewibawaan sang Nabi. Bahkan ia
menggambarkan pengagungan tersebut dengan kalimat "Kita menuju makam
Nabi SAW yang mulia sekalipun harus berjalan dengan kelopak mata (bait
4048).
Hal ini sangat kontradiksi dengan pemandangan sekarang. Suasana
khusyu' dan khidmat di makam Nabi SAW kini berubah menjadi seram.
Orang-orang bayaran wahhabi dengan congkaknya membelakangi makam Nabi
yang mulia. Mata mereka memelototi peziarah dan membentak-bentak
mereka yang sedang bertawassul kepada beliau SAW dengan tuduhan syirik
dan bid'ah. Tidakkah mereka menghormati jasad makhluk termulia di
semesta ini..? Tidakkah mereka ingat firman Allah "Hai orang-orang
yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi,
dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras, sebagaimana
kerasnya suara sebagian kamu terhadap yang lain, supaya tidak hapus
(pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari. "Sesungguhnya
orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka
itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk
bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar" (QS Al Hujarat,
49: 2-3).
Data-data di atas adalah sekelumit dari hasil penelitian obyektif pada
kitab-kitab mereka sendiri, sekedar wacana bagi siapa saja yang ingin
mencari kebenaran. Mudah mudahan dengan mengetahui tulisan-tulisan
pendahulunya, mereka lebih bersikap arif dan tidak arogan dalam
menilai kelompok lain.
(Ibnu KhariQ)
Referensi
- Majmu' fatawa Ibn Taimiyah
- Qasidah Nuniyyah karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyah
- Iqtidha' Shirathil Mustaqim karya Ibn Taimiyah cet. Darul Fikr
- Ar-Ruh karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, cet I Darul Fikr 2003
- Ahkam Tamannil Maut karya Muhammad bin Abdul Wahhab, cet. Maktabah
Saudiyah Riyadh Nasihat li ikhwanina ulama Najd karya Yusuf Hasyim
Ar-Rifa'i
Diambil dari rubrik Ibrah, Majalah Dakwah Cahaya Nabawiy Edisi 60 Th.
IV Rabi'ul Awwal 1429 H / April 2008 M
(saya ambil dari postingan lama di grup pengajian fb)
Allahu'alam
Haddanallahu w iyyakum amain
wasalamu'alaykum
Langganan:
Komentar (Atom)